bersepeda bersama Yesus Juli 4, 2009
Posted by conanmdn in christianity.add a comment
dari saudara Simon Hadipratono
Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.
Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah.
Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.
Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar t emp at, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah.
Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya.
Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama.
Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan.
Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan.
Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!
Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘gila’, tetapi Ia berkata, ‘Ayo, kayuh terus pedalnya!’
Kadang Aku takut, khawatir dan bertanya, ‘Aku mau dibawa ke mana?’
Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya.
Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.
Dan ketika aku berkata, ‘AKU TAKUT !’ Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.
Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan …
orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.
Kemudian, Yesus berkata, ‘Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya;
Jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.’
Maka, aku pun melakukannya.
Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka.
Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.
Pada mulanya, aku tidak ingin m emp ercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya.
Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda.
Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk m emp ercepat melewati t emp at-t emp at yang menakutkan.
Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.
Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan,
Yesus akan tersenyum dan berkata …
‘Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.’
Kesaksian Juli 2009 Juli 4, 2009
Posted by conanmdn in kesaksian.add a comment
Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.
Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya. Bergelut dengan PengobatanBerbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding. Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia. Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka. Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah. Membawa kepada Kristus Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu. Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya. Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya. “Terimakasih Tuhan Yesus” Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”.Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin…” Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus. Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata. Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah..” Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45. Tugasnya sudah selesai Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”. Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga. Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”. Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.
Breaking free from The spirit of fear Juni 18, 2009
Posted by conanmdn in christianity.add a comment
by Joyce Meyer
Everyone of us deals with fear regardless of our age, gender or nationality. And it’s a powerful force than Satan uses against us in an attempt to paralyze and keep us from moving forward to receive the will of God for our lives. I believe that the more attention we give to fear, the more power it has to influence and control our lives. Job 3:25 says, For the thing which I greatly fear comes upon me, and that of which I am afraid befalls me. The more we think about fear, the more opportunity we give fear to take control of our lives. I have found that the best antidote for fear is faith. Although you and I can’t do anything to keep the enemy from bringing his thoughts of fear against us, we can choose what we are going to think about. Through our faith and the words we speak, we can overcome Satan’s attacks.
Exposing Fear
Many years ago my outlook on life was extremely negative. I was so bad that even a few hours before Dave and I were married, I had this lingering feeling that he was going to back out. I feared that I would show up at the church and he wouldn’t be there. I had experienced so many disappointments, devastations, and hurtful situations in my life that my mindset had become, If I don’t expect anything good to happen, then I won’t be disappointed when it doesn’t happen. I thought that by thinking this way, I was protecting myself from being disappointed, but the truth was that I was miserable.
When I first began to seriously study God’s Word, the Lord showed me that I had many deep-rooted fears in my life. And one day while I was in the bathroom getting ready, God suddenly made me aware of a strong feeling that something bad was going to happen to me that day.
Within moments God revealed to me that I had lived with this feeling for most of my life. So I asked Him, ”What is this?” The Holy Spirit answered, ”It’s evil forebodings.” Webster’s II New College Dictionary defines the word foreboding as “a sense of impending misfortune or evil.” Now until this time, I had never heard anything like this. However, the Lord confirmed this in my heart by leading me to Proverbs 15:15. It says, All the days of the desponding and afflicted are made evil [by anxious thoughts and forebodings], but he who has a glad heart has a continual feast [regardless of circumstances].
As God revealed this to me, I began to realize that Satan had been playing the same recording in my ears all my life. It said, ”Something bad is going to happen to you.” The more I meditated on his message, the more it became embedded in my thinking and my speaking. I received, believed and spoke his thoughts of fear. As a result, I was in agreement with the enemy.
Faith in Action
Just as fear is a force that draws the will of Satan into our life, faith is a force that draws the will of God into our life. In order for my fearful mindset to be broken, my thinking needed to be renewed. God wanted to free me, but in order for me to receive His freedom, I needed to have faith. Hebrews 11:6 says that …without faith it is impossible to please and be satisfactory to [God]…
Once I recognize that fear was active in my life, I had to decide to stand against it. I purposely began to refuse Satan’s fears and choose to have faith in God’s Word. Even though it made no sense to my mind and I had no emotional feeling to back it up, I began to believe God for good things to happen.
God honored my faith and help me to develop a positive perspective. But it seemed as though something was still missing. So I went back to God and said, “I did what you told me. I stopped thinking and speaking fearful and negative thoughts, but I don’t see much change in my life.” His response was, “You’ve stopped thinking and saying the wrong thing, but you haven’t started saying the right thing.”
The Lord showed me that it is not enough to stop doing the wrong thing – we need to start doing the right thing. In this case, the right was a start speaking the promises of God. They key to keeping the devil off our back is to act in faith instead of react in fear.
Armed with The Word
I believe that one of the greatest weapons you and I have as believers is our mouth. Scripture gives us examples of the power of the spoken Word. When Jesus was tempted by the devil in the desert, the Scripture says He defeated Satan by speaking the Word (see Luke 4:1-13). In the book of Genesis, we find that God spoke and created the world and everything in it. Romans 4:17 says that we serve a God who …calleth those things which be not as though they were (KJV).
With this in mind, I made a list of about a hundred confessions – all based on God’s Word – that I felt God wanted me to start saying. Two or three times a day. I would speak these things over my life. When God first called me, He put in my heart that I would have a worldwide teaching ministry. So one of the things that I began to say out loud was, “I get speaking engagements every day of my life – by mail, phone and in person.” At the time I began saying this, I hadn’t had one speaking engagement. Now I receive hundreds of invitations every month.
Once my mind and mouth started getting into agreement with God’s will, God began to do mighty things in my life. The more I received, believed and spoke God’s Word against the devil’s deceptive lies, the less Satan was able to manipulate and control me. Soon I began to see radical changes in virtually every area of my life.
Don’t Fear Fear!
I believe that God wants to see His people set free from fear to live a life full of expectancy. Scripture tells us that His eyes search the earth looking to bless all who are looking to be blessed. Isaiah 30:18 says that …the Lord [earnestly] waits [expecting, looking, and longing] to be gracious to you …Blessed (happy, fortunate, to be envied) are all those who [earnestly] wait for Him, who expect and look and long for Him [for His victory, His favor, His love, His peace, His joy, and His matchless, unbroken companionship]!
I want to encourage you to open your heart to God, and ask Him to show you where you may have fear in your life. And although fear will try to attack you, it doesn’t make you a coward. Fear only becomes a problem when you and I receive it and let it control our lives instead of standing against it and confronting it with the truth of God’s Word. The next time fear attacks you, you don’t have to say, “I’m afraid… I’m afraid…” Instead, you can say, “I believe that God had a good plan for my life! Through Christ I am more than a conqueror!” (See Lamentations 3:25, Jeremiah 29:11, Romans 8:37.) By aggressively standing against Satan’s fears, we can shut the door on his plan for our lives and open the door to God’s blessings.
Kesaksian Juni 2009 Juni 18, 2009
Posted by conanmdn in kesaksian.add a comment
Dari saudari Diana, Jakarta
Sejak di PHK dari perusahaan asing tempat saya bekerja, saya mencari nafkah dengan menjadi guru bhs Inggris di rumah.Murid saya dari bermacam-macam latar belakang, ada anak SMU, mahasiswa bahkan karyawan.Salah satu murid saya, namanya Daniel.Dia termasuk anak yang tidak pandai.Nilainya selalu paling jelek.Tetapi dia anak yang rajin, tidak pernah putus asa.Kehidupan rohaninya pun cukup baik, dia rajin ke gereja dan rajin berdoa. Daniel belajar bhs Inggris karena dia ingin sekali bekerja di luar negeri.Walapun sebetulnya keluarganya sudah menganggap dia gila, karena keluarganya tahu bahwa dia bukan seorang anak yang pandai…
Dan untuk bekerja diluar negeri pada perusahaan yang akan dilamar oleh Daniel, standar Bahasa Inggrisnya harus Excellent.Jadi keluarganya selalu menyuruhnya untuk melupakan impiannya dan menyuruhnya bekerja di Indonesia saja. Apalagi biaya yg harus dikeluarkan oleh keluarganya lumayan besar untuk membiayai keberangkatannya.
Tetapi Daniel tetap berusaha keras dengan belajar dan berdoa.
Kalau pada anak normal 3-5 bulan saya mengajar sudah terlihat kemajuannya, ibaratnya seekor burung, maka sudah bisa berkicau walaupun belum sempurna.Tapi Daniel ini, sudah 3-5 bulan kondisinya tetap saja “bisu,” tidak ada satu katapun yang bisa dia katakan, yang membuat saya sukacita.
Saya tetap dengan sabar mengajar dia, tapi sesudah 7 bulan tidak ada kemajuan yang berarti saya akhirnya mulai putus asa. Saya mencoba berbicara dengan dia dari hati ke hati.Maksud saya supaya dia melupakan impiannya untuk bekerja di luar negeri karena kemampuannya belajar bhs Inggris sangat kurang, dan saya juga akan meminta dia untuk berhenti les dari saya, karena saya sungguh2 sudah putus asa.Saya kan juga tidak mau dibilang menerima uang les dengan cuma2 tanpa ada kemajuan dari sang murid.
Daniel berkata: “Ibu, kalau saya berjalan dengan Tuhan, saya percaya saya akan mendapatkan pekerjaan ini”.
Saya sungguh malu, bagaimana tidak… Daniel seorang muda dan sudah mempunyai keyakinan iman yang menakjubkan. Saya berkata: “OK, you can join my class again if you can say that words once again in a good English!” (baiklah, kamu boleh belajar lagi sama saya kalau kamu bisa mengatakan sekali lagi perkataanmu tadi dalam Bahasa Inggris yang baik) – ini dengan maksud bahwa kalau dia tidak bisa mengatakan dengan baik, maka saya mempunyai alasan untuk menyuruh dia berhenti belajar (dasar saya sudah putus asa).
Tapi tidak saya sangka Daniel mengulangi perkataannya dengan bhs Inggris sempurna: “Mam, if I walk with Thee, I believe that I can get this job.”
Rupanya perkataan ini selalu diulang2 Daniel untuk membangkitkan iman dia pada saat dia sendiri putus asa… (makanya pada waktu saya minta dia mengatakannya dlm Bahasa Inggris dengan lancar dia berkata… jadi bukan karena dia pintar, tetapi karena dia sudah hafal…) Maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengajarnya lagi, setelah belajar selama 12 bulan, tibalah waktunya Daniel untuk maju interview di perusahaan asing tempat dia melamar.
Saya sebetulnya tahu bahwa Bahasa Inggrisnya belum sempurna sekali dan masih dibawah standar yang ditentukan oleh perusahaan, tapi kemauan dan iman dia bahwa dia akan ditolong Tuhan membuat saya pun bisa melepas dia interview dengan hati besar.
Pada hari dia interview saya berdoa terus, saya mohon kepada Tuhan agar Tuhan tidak mengecewakan Daniel yang sungguh bergantung pada Tuhan.
Siang jam 2, Daniel telfon saya dan mengatakan dia LULUS. Puji Tuhan!! Saya menangis terharu, saya merasa pasti bahwa tangan Tuhan yang sudah menolong Daniel, bukan karena saya guru yang hebat, atau bukan karena kemampuan Daniel berbahasa Inggris.Tapi betul2 karena tangan Tuhan… Saya minta dia datang ke saya dan menceritakan semuanya secara detail.
Ternyata si interviewer, yaitu orang asing yang seharusnya menginterview Daniel pada hari itu tidak ada, karena harus pulang kampung ke London karena ibunya meninggal, dan penggantinya adalah orang Indonesia yang nama keluarganya atau marganya sama dengan Daniel… yaitu “Sianturi.”
Jadilah interview itu bukan bhs Inggris full… tapi seperti ngobrol ngalor ngidul campur2 Bahasa Inggris dan Batak…
Saya PERCAYA bahwa ini bukan suatu KEBETULAN, yaitu KEBETULAN orang asingnya harus pulang kampung; dan KEBETULAN penggantinya “saudara sekampung” Daniel… TAPI INI SUNGGUH MUJIZAT TUHAN….
Akhirnya, tentu saja Daniel lulus interview dan sekarang dia sudah bekerja di Miami . Setiap kali telepon saya, Daniel selalu saya ingatkan bahwa dia mendapatkan pekerjaan ini hanya karena kebaikan Tuhan…. bukan karena kehebatan dia…. (karena dia memang bukan anak yang pandai) dan juga bukan karena kebetulan. Daniel menyadari itu dan ia selalu berkata: “Don’ t worry Mam, I always walk with Thee…”
“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak.” Mazmur 37:5
Setelah saya utarakan semua uneg2 saya, saya melihat raut muka Daniel yang sedih, saya pun sedih… bagaimana tidak, 7 bulan sudah menjadi murid saya dan saya minta dia untuk berhenti belajar karena saya putus asa… Tetapi jawaban Daniel sungguh “menampar” iman kepercayaan saya sebagai seorang Katolik yang percaya dan bergantung pada Yesus.
Dampak Pembakaran Bahan Bakar Mei 24, 2009
Posted by conanmdn in knowledge.add a comment
1. Oksida Karbon (CO2 & CO)
- Gas Karbon dioksida pada konsentrasi tinggi (10%-20%), dapat menyebabkan pingsan.
- Dapat menyebabkan efek rumah kaca (green house effect)
- Gas Karbon monoksida (CO) berkadar 100 bpj di udara dapat menyebabkan sakit kepala, lelah, sesak napas, dan pingsan.Kadar diatas 500 bpj dapat menyebabkan pingsan.
2. Oksida belerang (SO2 dan SO3)
- Oksida belerang sebesar 0,5 ppm dapat merusakkan pepohonan.
- Bersifat sebagai racun dan menyebabkan rasa gatal pada saluran pernapasan.
- Dapat menyebabkan hujan asam akibat terbentuknya asam sulfit dan asam sulfat. Air hujan yang mengandung asam sulfit dan asam sulfat ini dapat merusak benda-benda yang terbuat dari logam maupun benda yang terbuat dari batu, misalnya patung-patung di candi.
3. Oksida Nitrogen
- Menyebabkan gangguan saluran pernapasan dan mata terasa perih.
- Gas NO2 juga merupakan oksid asam sehingga hasil reaksinya dengan air hujan dapat menyebabkan hujan asam.
4. Logam Timbal
- Menyebabkan anemia atau kurang darah
- Dapat menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak,menghambat pertumbuhan, dan dapat menimbulkan kelumpuhan.
- Sakit kepala yang dapat menyebabkan kerusakan pada otak.
- Kebutaan atau kematian pada kadar yang tinggi.
5. Partikulat
- partikulat padat & cair ditambah dengan adanya oksida-oksida nitrogen, dan oksida-oksida belerang di udara, akan menimbulkan asap kabut yng dikenal dengan istilah smog yang berasal dari kata smoke (asap) dan fog (kabut).
diambil dari buku “Rumus Lengkap Kimia SMA” karangan Drs. Anwar Santoso
Asam-Basa Mei 21, 2009
Posted by conanmdn in knowledge.add a comment
Asam-Basa
Asam dan Basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan sifat asam Basa, larutan dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu bersifat asam, bersifat basa, dan bersifat netral. Asam dan Basa memiliki sifat-sifat yang berbeda, sehingga dapat kita bisa menentukan sifat suatu larutan. Untuk menentukan suatu larutan bersifat asam atau basa, ada beberapa cara. Yang pertama menggunakan indikator warna, yang akan menunjukkan sifat suatu larutan dengan perubahan warna yang terjadi. Misalnya Lakmus, akan berwarna merah dalam larutan yang bersifat asam dan akan berwarna biru dalam larutan yang bersifat basa. Sifat asam basa suatu larutan juga dapat ditentukan dengan mengukur pH-nya. pHmerupakan suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman larutan. Larutan asam memiliki pH kurang dari 7, larutan basa memiliki pH lebih dari 7, sedangkan larutan netral memiliki pH=7. pH suatu larutan dapat ditentukan dengan indikator pH atau dengan pH meter.
Teori Asam-Basa Arrhenius
Sejak berabad-abad yang lalu, pakar kimia mendefinisikan asam dan basa berdasar sifat larutannya. Larutan asam memiliki rasa masam dan bersifat korosif (merusak logam, marmer, dan berbagai bahan lain). sedangkan basa berasa agak pahit dan bersifat kaustik ( licin).
Namun ada beberapa pendapat yang menjelaskan penyebab sifat asam dan basa. Pada tahun 1777, Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) mengemukakan bahwa asam mengandung unsur oksigen. Davy kemudian menyimpulkan bahwa unsur hidrogenlah yang merupakan unsur dasar asam. Kemudian tahun 1814 Joseph Louis Gay-Lussac (1778-1850) menyimpulkan bahwa asam adalah suatu zat yang dapat menetralkan alkali dan kedua golongan senyawa itu hanya dapat didefinisikan dalam kaitan satu dengan yang lain.
Namun konsep/pendapat yang cukup memuaskan, dan dapat diterima hingga saat ini dikemukakan oleh Svante August Arrhenius (1859-1927), yaitu :
- asam
- basa
asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+. dengan kata lain, pembawa sifat asam adalah ion H+. dan dirumuskan dengan
HxZ(aq)———»xH+(aq) + Zx-(aq)
basa adalah zat yang dalam air menghasilkan ion hidroksida (OH-)dengan kata lain, pembawa sifat basa adalah (OH-). dan dirumuskan dengan
M(OH)x(aq)———»Mx+(aq) + xOH-(aq)
Mei 21, 2009
Posted by conanmdn in special day.add a comment

Mengapa kenaikannya dirayakan?
- Karena Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita
- Dengan begitu Ia menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan
- Ia duduk disebelah kanan Allah untuk menjadi pembela kita
2 bayi-natal Januari 24, 2009
Posted by conanmdn in special day.1 comment so far
Di tahun 1994, 2 orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara, kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran, dan di sebuah tempat yatim piatu yang besar. Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ, yang terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program pemerintah. Beginilah kisah dalam kata-kata mereka: Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak yatim piatu kita – untuk pertama kalinya – mendengar kisah Natal. Kami cerita soal Maria dan Yusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab tak mendapat penginapan, lalu pergi ke sebuah kandang binatang, di mana bayi Yesus lahir dan diletakkan dalam sebuah palungan. Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau diam, terpaku takjub mendengarkan. Beberapa di antaranya bahkan duduk di ujung depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih menangkap tiap kata. Seusai cerita, semua anak-anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan, juga sehelai kertas persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin berwarna kuning yang kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang langka di kota ini. Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan hati-hati, menyusun sobekan pita-pita seakan-akan itu jerami kuning di palungan. Potongan kecil kain flanel digunting dari gaun malam bekas dari seorang ibu Amerika saat meninggalkan Rusia – dipakai sebagai selimut kecil bayi itu. Bayi mirip bonekapun digunting dari lembaran kulit tipis yang kami bawa dari Amerika. Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku berjalan keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan. Semuanya kelihatan beres, sampai aku tiba di meja si kecil Misha (seorang anak laki-laki). Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah menyelesaikan proyeknya. Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya satu, melainkan ada dua bayi di dalamnya. Cepat kupanggil penterjemah agar menanyai anak ini kenapa ada dua bayi. Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak ini mulai mengulang kisah Natal dengan amat serius. Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal, ia mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya – sampai pada bagian kisah di mana Maria meletakkan bayi itu ke dalam palungan. Di sini si Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini demikian: “Sewaktu Maria menaruh bayi itu di palungan, Yesus lalu melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal. Aku bilang aku tak punya mama dan tak punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk tinggal. Lalu Yesus bilang aku sih boleh tinggal sama dia. Tapi aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang Majus dalam kisah itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir, apa yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. Aku pikir barangkali kalau aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah.” “Jadi aku bertanya pada Yesus, ‘Kalau aku menghangatkanmu, cukup tidak itu sebagai kado?’ Dan Yesus menjawab, ‘Kalau kamu menjaga dan menghangatkan aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.’ Jadi begitu, terus aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang aku boleh kok tinggal bersamanya – untuk selamanya.” Saat si kecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang meluber jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ditutupi dengan tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke meja and seluruh tubuh dan pundaknya gemetar saat ia menangis tersedu. Yatim piatu kecil ini telah menemukan seseorang yang takkan pernah melupakan atau meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat jahat padanya, seseorang yang akan tetap tinggal dan menemaninya – untuk selamanya.